Menurutnya, karakter harus tumbuh dari kesadaran dan nilai yang diinternalisasi secara mendalam, bukan sekadar simbol atau jargon.
“Karakter itu harus mengakar. Tidak manipulatif dan tidak ikut arus sesaat. Di tengah disrupsi dan banjir informasi seperti sekarang, character building menjadi fondasi utama,” ujar Ali Muhtarom, yang juga menjabat Ketua Yayasan Bumi Harmoni Pancasila.
Ali menyoroti tantangan besar yang datang dari ruang digital. Informasi bergerak cepat, namun tidak selalu disertai kebenaran. Karena itu, ia menilai literasi digital harus menjadi bagian tak terpisahkan dari moderasi beragama. Sikap kritis perlu dibangun, tetapi harus diiringi kemampuan memverifikasi data.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
“Kritis itu penting. Kita mengenal kritis transformatif. Tapi semua harus berbasis data yang valid. Tabayyun menjadi kunci agar kita tidak terjebak hoaks dan provokasi,” katanya.
Pandangan senada disampaikan Wakil Sekretaris Jenderal PB PMII, Drs. Insan Purnama, M.Si. Ia menyebut moderasi beragama sebagai benteng utama generasi muda agar tidak terjerumus ke ekstremisme maupun liberalisme yang berlebihan.
Insan menilai kelompok muda menjadi sasaran empuk penyebaran konten intoleran karena tingginya intensitas penggunaan media sosial. Tanpa bekal literasi yang memadai, generasi muda mudah kehilangan arah.
“Moderasi adalah jalan tengah. Tanpanya, generasi muda rawan terseret arus yang ekstrem. Empat pilar kebangsaan harus dipahami sebagai fondasi hidup bersama dalam keberagaman,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Rumah Moderasi Beragama UIN SMH Banten, Salim Rosyadi, menjelaskan konsep moderasi beragama melalui pendekatan Maqashid Syariah. Ia menegaskan bahwa ajaran Islam menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan keadilan.
Penulis : Dayat
Editor : Redaksi Kilas Banten
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya

















