Tokoh lintas agama dan masyarakat menghadiri peringatan Haul Gus Dur ke-16 yang digelar Gusdurian Karawang di Pondok Pesantren Al Hijaz, Klari, Karawang.Menurutnya, tantangan kebangsaan saat ini semakin kompleks. Polarisasi sosial dan isu intoleransi masih muncul di ruang publik. Karena itu, nilai yang diwariskan Gus Dur dinilai semakin relevan. Gusdurian Karawang berkomitmen menjadikan toleransi sebagai praktik nyata, bukan sekadar wacana.
Rohiman juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya Haul Gus Dur ke-16. Ia menilai dukungan tersebut mencerminkan kuatnya semangat kebersamaan di tengah masyarakat Karawang.
“Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu menyukseskan acara ini, baik secara materiel maupun moril,” kata Rohiman.
Rangkaian acara haul diisi dengan doa bersama dan pembacaan tahlil untuk almarhum Gus Dur. Selain itu, para tokoh menyampaikan tausiyah kebangsaan. Dalam tausiyah tersebut, para pembicara menekankan pentingnya menjaga persatuan nasional di tengah keberagaman suku, agama, dan budaya. Pesan tersebut sejalan dengan gagasan Gus Dur tentang Indonesia sebagai rumah bersama.
Haul Gus Dur juga menjadi ruang perjumpaan lintas iman. Tokoh agama dari berbagai latar belakang hadir dan duduk berdampingan. Pemandangan ini mencerminkan praktik toleransi yang selama ini diperjuangkan Gus Dur. Bagi komunitas Gusdurian Karawang, toleransi harus diwujudkan dalam tindakan konkret dan dialog yang berkelanjutan.
Peringatan Haul Gus Dur ke-16 di Karawang menegaskan bahwa warisan pemikiran dan keteladanan Gus Dur tetap hidup di tengah masyarakat. Nilai kemanusiaan, keadilan, dan keberagaman terus dirawat agar tidak pudar oleh zaman. Melalui kegiatan ini, Gusdurian Karawang berharap generasi muda semakin mengenal sosok Gus Dur dan meneruskan perjuangannya demi Indonesia yang damai, adil, dan beradab.