Selain ramen sagu, peserta juga diajarkan membuat ayam angkak dan puding sayur berbahan wortel serta jagung. Menu-menu tersebut dirancang agar tetap lezat, menarik bagi anak-anak, sekaligus memenuhi kebutuhan gizi harian.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Lisnah, pemanfaatan pangan lokal menjadi langkah penting untuk meningkatkan kualitas konsumsi masyarakat. Selain itu, cara tersebut juga dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahan pangan tertentu seperti nasi dan tepung impor.
Ia menjelaskan, sumber karbohidrat tidak selalu harus berasal dari nasi. Banyak bahan pangan lokal yang memiliki kandungan gizi tinggi dan dapat diolah menjadi makanan modern yang sehat dan disukai anak-anak.
“Kami ingin orang tua bisa menyiapkan makanan sehat di rumah dengan standar gizi yang baik. Kebutuhan anak mulai dari karbohidrat, protein, vitamin hingga mineral harus terpenuhi setiap hari,” katanya.
Program pelatihan tersebut menjadi bagian dari kampanye pemerintah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pola makan sehat sejak usia sekolah. DKP berharap para orang tua memiliki pemahaman lebih baik mengenai penyajian makanan yang seimbang dan aman dikonsumsi anak.
Salah satu peserta, Waika Ismalia mengaku mendapatkan banyak pengetahuan baru selama mengikuti pelatihan tersebut. Orang tua siswa kelas 7A SMPN 1 Tangerang itu menyebut masih banyak masyarakat yang menganggap nasi sebagai satu-satunya sumber karbohidrat utama.
“Kebetulan anak saya tidak mengonsumsi nasi. Dari pelatihan ini saya jadi tahu bahwa sumber karbohidrat tidak selalu berasal dari nasi,” ujar Waika.
Penulis : Wahyu
Editor : Taufik
Sumber Berita: KILASBANTEN.COM
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya
















