Peserta menampilkan kemampuan robot hasil rancangan mereka dalam ajang FTIK Vaganza AIROC 2026 yang digelar FTIK UIN SMH Banten bersama Artificial Intelligence Center Indonesia (AICI).
Karena itu, ia menegaskan pentingnya pengenalan coding, programming, dan kecerdasan buatan sejak usia dini. Menurutnya, bekal tersebut akan membantu generasi muda beradaptasi dengan berbagai perubahan teknologi di masa depan.
“Kami ingin anak-anak memiliki bekal coding, programming, dan AI. Dengan kemampuan itu mereka akan lebih siap menghadapi teknologi apa pun di masa depan,” ujarnya.
Sementara itu, Dekan FTIK UIN SMH Banten, Dr. Subhan, mengungkapkan bahwa fakultas yang dipimpinnya telah memasukkan mata kuliah berbasis AI ke dalam kurikulum terbaru seluruh program studi. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari penerapan Outcome-Based Education (OBE) yang berorientasi pada kompetensi lulusan.
Menurut Subhan, peningkatan kapasitas dosen menjadi tahap awal yang harus dilakukan agar implementasi kurikulum berbasis AI berjalan optimal. Ia berharap lulusan FTIK mampu menguasai teknologi modern tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman dan kearifan lokal yang menjadi identitas kampus.
Di sisi lain, Wakil Rektor II UIN SMH Banten, Ali Muhtarom, menegaskan bahwa penguasaan teknologi digital dan robotik kini menjadi kebutuhan penting dalam pendidikan modern. Ia berharap FTIK dapat menjadi pelopor pengembangan robotik di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN).
Ali juga membuka peluang kerja sama yang lebih luas dengan pemerintah daerah, Kementerian Agama, hingga Kemendiktisaintek guna memperkuat ekosistem robotik nasional. Namun, ia mengingatkan bahwa kemajuan teknologi harus tetap berjalan seiring dengan pembentukan karakter dan penguatan spiritualitas.