Ia juga menegaskan pentingnya konsistensi dalam berkhidmat di Nahdlatul Ulama.
Menurut KH Matin, menjadi bagian dari NU tidak cukup dilakukan secara simbolik. Setiap warga harus hadir secara utuh dengan komitmen ideologis yang jelas.
“Kalau masuk NU itu harus kafah. Jangan setengah NU, setengah organisasi lain. NU ya NU,” tegasnya.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam refleksinya, KH Matin membagikan pengalaman terkait upaya menjaga garis ideologi NU. Ia mengisahkan pernah menghadapi situasi ketika seorang tokoh agama yang semula aktif di NU kemudian terlibat dalam organisasi lain dengan pandangan ideologis berbeda.

Ia menjelaskan bahwa pendekatan persuasif dan dialog tetap dikedepankan demi menjaga kebersamaan. Namun, ketika pilihan ideologis sudah tidak sejalan dengan prinsip dasar NU, organisasi harus mengambil sikap tegas.
“NU tidak bisa bercampur dengan ideologi yang berbeda prinsip. Ini bukan soal memusuhi, tapi soal kejelasan sikap,” katanya.
KH Matin menegaskan bahwa ketegasan tersebut bukan lahir dari kebencian atau sikap eksklusif. Langkah itu, menurutnya, merupakan bentuk tanggung jawab untuk menjaga marwah organisasi dan melindungi warga NU dari pengaruh yang bertentangan dengan nilai dasar jam’iyah.
Ia menilai sikap yang terlalu permisif justru berpotensi menimbulkan dampak lebih besar. Ketidaktegasan dapat membuat warga NU kehilangan arah dan menjauh dari prinsip Ahlussunnah wal Jamaah yang menjadi pijakan utama organisasi.
Penulis : Dayat
Editor : Redaksi Kilas Banten
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya

















