Heboh Ikan Sapu-sapu Dikubur Hidup-hidup, Rektor UIN Banten Prof Ishom Sebut Boleh, Tapi Soroti Etika dan Cara Manusiawi

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Prof Dr Muhammad Ishom

i

Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Prof Dr Muhammad Ishom

 

Ia mengutip riwayat Ibnu al-Qasim yang menyebutkan bahwa ikan diperbolehkan langsung dimasukkan ke dalam api meski belum mati.

 

ADVERTISEMENT

, ads. Ukuran gambar 480px x 600px

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Dari penjelasan itu, mengubur ikan sapu-sapu dalam kondisi hidup dapat dianalogikan sebagai tindakan yang diperbolehkan,” ujar Ishom, Senin, 20 April 2026.

 

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kebolehan tersebut tidak boleh mengabaikan nilai etika. Prinsip ihsan atau berbuat baik terhadap makhluk hidup harus tetap dijaga. Ia menilai metode tersebut berpotensi menimbulkan penderitaan yang berkepanjangan.

 

“Jika ada cara yang lebih cepat dan tidak menimbulkan penderitaan lama, maka itu lebih dianjurkan,” katanya.

 

Pandangan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga memperkuat sisi etika dalam polemik ini. Sekretaris Komisi Fatwa MUI, KH Miftahul Huda, menilai praktik tersebut tidak sejalan dengan prinsip rahmatan lil ‘alamin. Ia menekankan pentingnya memperhatikan kesejahteraan hewan dalam setiap tindakan manusia.

Baca Juga  Bertemu Kajati Banten, Rektor Prof Ishom Gaspol Dorong Lulusan Syariah Masuk ASN Kejaksaan

 

Meski begitu, MUI tetap mengakui bahwa pengendalian populasi ikan sapu-sapu memiliki nilai kemaslahatan. “Langkah ini sejalan dengan maqasid syariah, khususnya dalam menjaga lingkungan,” ujarnya.

 

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta merespons kritik tersebut dengan membuka ruang evaluasi. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan akan menyesuaikan metode pemusnahan berdasarkan masukan para ahli dan ulama.

 

“Mengenai kritik dari MUI, nanti akan kami sesuaikan tata caranya,” kata Pramono, Minggu, 19 April 2026.

Penulis : Dayat

Editor : Redaksi Kilas Banten

Sumber Berita: KILASBANTEN.COM

Follow WhatsApp Channel www.kilasbanten.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Di Harlah PMII ke-66, Fathan Subchi: Jangan Sekadar Bergerak, Harus Berdampak Nyata
Retreat Nasional di Magelang, Ketua DPRD Kabupaten Serang Tekankan Peran Gen Z sebagai Kunci Indonesia Emas 2045
Di Harlah PMII ke-66, Tokoh Nasional PB IKA PMII Berkumpul, Konsolidasi Kebangsaan Menguat di Jakarta
Kongres IMAKIPSI XIII Meledak di Mataram, Mahasiswa Kependidikan Deklarasikan Perang Total Ketimpangan Pendidikan 3T
PPP Banten Resmi Dipimpin Neng Siti Julaiha, Bakal Pasang Target Ambisius Menang Besar di Pemilu 2029
Gelombang 2.500 Alumni Padati Istiqlal, Silatnas IKTASA Ciwaringin Tegaskan Kekuatan Besar Pesantren untuk Bangsa
Geger! Program MBG di Bone Tersendat, SPPG Macege Disetop Mendadak Diduga Abaikan Standar Lingkungan
Ledakan Semangat Anak Muda, PeaceLab Jadi Motor Baru Gerakan Perdamaian Berbasis Budaya dan Sejarah
Kontroversi penguburan ikan sapu-sapu hidup-hidup di Jakarta menuai pro dan kontra. Ulama menyatakan boleh secara fikih, namun tetap menekankan aspek etika dan kesejahteraan hewan.

Berita Terkait

-

Di Harlah PMII ke-66, Fathan Subchi: Jangan Sekadar Bergerak, Harus Berdampak Nyata

-

Heboh Ikan Sapu-sapu Dikubur Hidup-hidup, Rektor UIN Banten Prof Ishom Sebut Boleh, Tapi Soroti Etika dan Cara Manusiawi

-

Retreat Nasional di Magelang, Ketua DPRD Kabupaten Serang Tekankan Peran Gen Z sebagai Kunci Indonesia Emas 2045

-

Di Harlah PMII ke-66, Tokoh Nasional PB IKA PMII Berkumpul, Konsolidasi Kebangsaan Menguat di Jakarta

-

Kongres IMAKIPSI XIII Meledak di Mataram, Mahasiswa Kependidikan Deklarasikan Perang Total Ketimpangan Pendidikan 3T

Berita Terbaru