Heboh Ikan Sapu-sapu Dikubur Hidup-hidup, Rektor UIN Banten Prof Ishom Sebut Boleh, Tapi Soroti Etika dan Cara Manusiawi

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Prof Dr Muhammad Ishom

i

Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Prof Dr Muhammad Ishom

 

Ia menjelaskan bahwa langkah pengendalian dilakukan karena populasi ikan sapu-sapu sudah mendominasi perairan. Bahkan, jumlahnya disebut mencapai lebih dari 60 persen dari total populasi ikan di beberapa wilayah.

 

ADVERTISEMENT

, ads. Ukuran gambar 480px x 600px

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam satu hari operasi di Jakarta Selatan, petugas berhasil menangkap lebih dari 3,5 ton ikan sapu-sapu. Data Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta mencatat total tangkapan mencapai 68.880 ekor atau sekitar 6,98 ton dalam operasi serentak di lima wilayah pada 17 April 2026.

 

Jakarta Selatan menjadi wilayah dengan tangkapan terbesar, yakni 63.600 ekor dari kawasan Setu Babakan. Sementara wilayah lain seperti Jakarta Timur, Pusat, Utara, dan Barat mencatat jumlah yang jauh lebih kecil.

Baca Juga  Retreat Nasional di Magelang, Ketua DPRD Kabupaten Serang Tekankan Peran Gen Z sebagai Kunci Indonesia Emas 2045

 

Upaya ini menjadi bagian dari langkah menjaga keseimbangan ekosistem perairan. Namun, polemik yang muncul menegaskan bahwa efektivitas tidak boleh mengesampingkan nilai kemanusiaan dan etika.

 

Perdebatan ini menunjukkan pentingnya mencari metode yang tidak hanya cepat, tetapi juga manusiawi. Pemerintah kini dituntut menemukan solusi yang bijak agar pengendalian lingkungan tetap berjalan tanpa mengabaikan prinsip moral dan ajaran agama.***

Penulis : Dayat

Editor : Redaksi Kilas Banten

Sumber Berita: KILASBANTEN.COM

Follow WhatsApp Channel www.kilasbanten.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Di Harlah PMII ke-66, Fathan Subchi: Jangan Sekadar Bergerak, Harus Berdampak Nyata
Retreat Nasional di Magelang, Ketua DPRD Kabupaten Serang Tekankan Peran Gen Z sebagai Kunci Indonesia Emas 2045
Di Harlah PMII ke-66, Tokoh Nasional PB IKA PMII Berkumpul, Konsolidasi Kebangsaan Menguat di Jakarta
Kongres IMAKIPSI XIII Meledak di Mataram, Mahasiswa Kependidikan Deklarasikan Perang Total Ketimpangan Pendidikan 3T
PPP Banten Resmi Dipimpin Neng Siti Julaiha, Bakal Pasang Target Ambisius Menang Besar di Pemilu 2029
Gelombang 2.500 Alumni Padati Istiqlal, Silatnas IKTASA Ciwaringin Tegaskan Kekuatan Besar Pesantren untuk Bangsa
Geger! Program MBG di Bone Tersendat, SPPG Macege Disetop Mendadak Diduga Abaikan Standar Lingkungan
Ledakan Semangat Anak Muda, PeaceLab Jadi Motor Baru Gerakan Perdamaian Berbasis Budaya dan Sejarah
Kontroversi penguburan ikan sapu-sapu hidup-hidup di Jakarta menuai pro dan kontra. Ulama menyatakan boleh secara fikih, namun tetap menekankan aspek etika dan kesejahteraan hewan.

Berita Terkait

-

Di Harlah PMII ke-66, Fathan Subchi: Jangan Sekadar Bergerak, Harus Berdampak Nyata

-

Heboh Ikan Sapu-sapu Dikubur Hidup-hidup, Rektor UIN Banten Prof Ishom Sebut Boleh, Tapi Soroti Etika dan Cara Manusiawi

-

Retreat Nasional di Magelang, Ketua DPRD Kabupaten Serang Tekankan Peran Gen Z sebagai Kunci Indonesia Emas 2045

-

Di Harlah PMII ke-66, Tokoh Nasional PB IKA PMII Berkumpul, Konsolidasi Kebangsaan Menguat di Jakarta

-

Kongres IMAKIPSI XIII Meledak di Mataram, Mahasiswa Kependidikan Deklarasikan Perang Total Ketimpangan Pendidikan 3T

Berita Terbaru