Heboh Ikan Sapu-sapu Dikubur Hidup-hidup, Rektor UIN Banten Prof Ishom Sebut Boleh, Tapi Soroti Etika dan Cara Manusiawi

Kilas Banten
20 Apr 2026 15:00
3 menit membaca

 

Ia menjelaskan bahwa langkah pengendalian dilakukan karena populasi ikan sapu-sapu sudah mendominasi perairan. Bahkan, jumlahnya disebut mencapai lebih dari 60 persen dari total populasi ikan di beberapa wilayah.

 

Dalam satu hari operasi di Jakarta Selatan, petugas berhasil menangkap lebih dari 3,5 ton ikan sapu-sapu. Data Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta mencatat total tangkapan mencapai 68.880 ekor atau sekitar 6,98 ton dalam operasi serentak di lima wilayah pada 17 April 2026.

 

Jakarta Selatan menjadi wilayah dengan tangkapan terbesar, yakni 63.600 ekor dari kawasan Setu Babakan. Sementara wilayah lain seperti Jakarta Timur, Pusat, Utara, dan Barat mencatat jumlah yang jauh lebih kecil.

Baca Juga  Guncang Sejarah Haji Nasional: Rektor UIN Banten Pimpin Buku Monumental “Haji di Era Kemenag”

 

Upaya ini menjadi bagian dari langkah menjaga keseimbangan ekosistem perairan. Namun, polemik yang muncul menegaskan bahwa efektivitas tidak boleh mengesampingkan nilai kemanusiaan dan etika.

 

Perdebatan ini menunjukkan pentingnya mencari metode yang tidak hanya cepat, tetapi juga manusiawi. Pemerintah kini dituntut menemukan solusi yang bijak agar pengendalian lingkungan tetap berjalan tanpa mengabaikan prinsip moral dan ajaran agama.***