Pemprov Banten dan DKI Jakarta memperkuat kolaborasi mengatasi banjir dan sampah di Tangerang Raya. Pembangunan tandon air hingga proyek listrik dari sampah mulai disiapkan.
Tidak hanya itu, air yang tertampung nantinya juga akan dimanfaatkan sebagai sumber air baku untuk kebutuhan masyarakat.
“Melalui tandon-tandon itu, air bakunya nanti bisa dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat,” katanya.
Selain fokus pada penanganan banjir, Pemprov Banten dan Pemprov DKI Jakarta juga membahas persoalan sampah yang terus meningkat setiap tahun. Kawasan Tangerang Raya disebut akan mulai mengembangkan sistem pengolahan sampah berbasis energi melalui pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah atau PLTSa.
Program tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat yang mendorong pengurangan volume sampah di tempat pembuangan akhir.
Sampah organik nantinya juga akan diolah menjadi produk bernilai ekonomis dengan melibatkan masyarakat sekitar. Langkah itu diharapkan mampu menciptakan nilai tambah ekonomi sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan.
Bupati Tangerang Maesyal Rasyid menambahkan, pembahasan dalam pertemuan tersebut turut menyentuh pemanfaatan lahan milik Pemprov DKI Jakarta di Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang.
Menurut Maesyal, lahan tersebut memiliki potensi besar untuk mendukung program pengendalian banjir dan pengembangan kawasan produktif.
“Sebab, dari total lahan yang ada, baru 1,4 hektare yang digunakan untuk Lapas. Sisanya akan dimanfaatkan sesuai peruntukan,” ujar Maesyal.
Ia menjelaskan, sekitar 38 hektare lahan akan digunakan untuk pertanian dan pembangunan tandon pengendali banjir. Sedangkan sekitar 47 hektare lainnya direncanakan menjadi kawasan permukiman.