Sementara itu, Kecamatan Cirinten yang berbatasan langsung dengan Leuwidamar juga dinilai memiliki kekayaan budaya yang kuat. Di wilayah tersebut terdapat kampung adat kasepuhan yang hingga kini tetap bertahan menjaga tradisi leluhur.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Rombongan peserta visitasi disambut Camat Leuwidamar, Agung Nugraha. Ia menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada wilayahnya sebagai salah satu lokasi pelaksanaan KKN Nusantara 2026.
Agung menjelaskan, Leuwidamar memiliki sejarah panjang yang tidak dimiliki banyak daerah lain di Kabupaten Lebak. Bahkan, pada periode 1828 hingga 1842, kawasan itu pernah menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Lebak.
“Jejak sejarahnya masih dapat ditemukan melalui bangunan-bangunan peninggalan kolonial Belanda yang masih berdiri hingga sekarang,” katanya.
Selain sejarah, Agung menyebut Leuwidamar memiliki kekayaan alam dan budaya yang masih terjaga. Menurutnya, kondisi tersebut dapat menjadi modal besar untuk mengembangkan wisata berbasis sejarah, budaya, dan lingkungan.
Namun demikian, ia mengakui masih ada sejumlah persoalan yang harus mendapat perhatian bersama. Salah satunya terkait pengelolaan sampah dan persoalan pendidikan di beberapa wilayah.
Ia mengungkapkan masih ditemukan anak usia sekolah yang putus pendidikan. Karena itu, keberadaan mahasiswa melalui program KKN Nusantara diharapkan mampu memberi dampak positif bagi masyarakat.
“Masih ada anak-anak usia sekolah di beberapa wilayah yang putus pendidikan. Kehadiran mahasiswa dari berbagai daerah diharapkan dapat memberi motivasi dan membangun kesadaran bahwa pendidikan adalah investasi masa depan,” ujar Agung.
Penulis : Dayat
Editor : Redaksi Kilas Banten
Sumber Berita: KILASBANTEN.COM
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya
















