Nabi Muhammad, Umar bin Khattab dan Sapi Kurban Presiden Prabowo Subianto

Kilas Banten
30 Mei 2026 07:00
Opini 0
3 menit membaca

 

Umar bin Khattab pernah mematikan lampu negara ketika berbicara urusan keluarga. Mengapa? Karena beliau sadar bahwa satu tetes minyak milik negara pun haram digunakan untuk kepentingan pribadi. Bandingkan dengan hari ini, miliaran rupiah uang rakyat bisa dipakai untuk membangun panggung simbolik atas nama bantuan, hibah, hingga pencitraan kekuasaan, lalu dianggap biasa.

 

Yang lebih berbahaya adalah ketika agama dipakai untuk membungkus legitimasi politik. Qurban yang seharusnya menjadi ibadah ketundukan kepada Allah berubah menjadi alat distribusi citra kekuasaan. Foto-foto sapi jumbo, publikasi media, hingga narasi “bantuan presiden” akhirnya menimbulkan kesan bahwa negara sedang dipakai untuk memperkuat kultus pemimpin.

 

Dalam Islam, penguasa bukan raja yang boleh menganggap kas negara sebagai dompet pribadi. Ali bin Abi Thalib pernah berkata bahwa harta negara bukan milik pemimpin, melainkan hak rakyat yang harus dijaga dengan penuh ketakutan kepada Allah.

Baca Juga  Logika di Balik Birahi

 

Karena itu, kritik terhadap penggunaan APBN untuk kebutuhan simbolik bukan bentuk kebencian kepada pemerintah, melainkan bentuk amar ma’ruf nahi munkar. Rakyat berhak bertanya, mengapa ibadah yang seharusnya lahir dari pengorbanan pribadi justru dibebankan kepada uang rakyat yang bahkan masih banyak digunakan untuk menutup kemiskinan, pengangguran, dan penderitaan sosial?

 

Sejarah membuktikan, banyak kekuasaan runtuh bukan karena lemahnya tentara, tetapi karena hilangnya rasa malu para pemimpinnya terhadap amanah rakyat. Dan Islam sejak awal telah memberi peringatan keras, ketika penguasa mulai merasa bahwa fasilitas negara adalah hak pribadinya, maka kehancuran moral tinggal menunggu waktu.