Kendati demikian, A’wan PBNU, KH Matin Syarkowi, dalam sambutannya menekankan pentingnya pemahaman sejarah dan ideologi bagi setiap pengurus NU.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menyebut bahwa tidak memahami sejarah NU merupakan kekeliruan serius dalam berorganisasi.
“Tidak tahu sejarah itu bahaya. NU dibangun dengan perjuangan panjang dan nilai ideologis yang kuat,” ujar KH Matin.
Ia mengingatkan agar pengurus ISNU tidak hanya mengejar posisi struktural tanpa komitmen kerja.
Menurutnya, menjadi pengurus NU adalah amanah yang harus dijalankan dengan kesungguhan.
KH Matin juga menekankan pentingnya menjaga akidah Islam Ahlussunnah wal Jamaah sebagai fondasi gerakan NU.
Ia menilai, kekuatan NU terletak pada keseimbangan antara keilmuan, ideologi, dan akhlak.
“NU dibangun oleh ulama dengan sanad keilmuan yang jelas. Itu yang tidak boleh digoyahkan,” katanya.
Ia berharap ISNU mampu melahirkan kader intelektual yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kokoh secara ideologis.
“Tantangan era media sosial harus dihadapi dengan kedewasaan dan literasi yang baik,” tuturnya.
Arahan juga disampaikan oleh Sekretaris Umum PP ISNU, Wardi Taufik, yang mewakili Ketua Umum PP ISNU.
Ia menekankan pentingnya akselerasi pendataan anggota sebagai fondasi perencanaan organisasi.
Menurutnya, database SDM menjadi kunci untuk membangun jejaring dan sinergi dengan berbagai pihak.
“Tanpa data, ISNU akan sulit bergerak dan sulit berbicara di hadapan pemangku kebijakan,” kata Wardi.
Penulis : Dayat
Editor : Redaksi Kilas Banten
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya

















