Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan kepada para rektor perguruan tinggi se-Indonesia dalam taklimat tertutup di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis, 15 Januari 2026.
“Forum seperti ini sangat baik dan perlu dilanjutkan. Kampus harus terlibat aktif dalam pembangunan nasional, bukan sekadar menjadi penonton,” katanya.
Pandangan senada disampaikan Dekan Fakultas Usuluddin dan Adab UIN SMH Banten, Dr Masykur. Ia menilai keterlibatan pimpinan perguruan tinggi dalam pembahasan strategis negara sebagai sinyal kuat keseriusan pemerintah membenahi sektor pendidikan tinggi.
“Ini penting untuk masa depan Indonesia. Pendidikan tinggi harus dilibatkan sejak awal dalam perumusan arah kebijakan, bukan hanya sebagai pelaksana,” ujar Masykur.
Dalam arahannya, Presiden Prabowo menekankan bahwa banyak negara kini mengedepankan pendekatan realis dalam hubungan internasional. Ideologi tidak lagi menjadi faktor utama. Negara-negara besar memaksimalkan seluruh instrumen kekuatan nasional demi menjaga kepentingan keamanan dan ekonomi.
Prabowo mencontohkan persaingan Amerika Serikat dan China dalam memperebutkan pengaruh global. Persaingan itu, menurutnya, kerap diwujudkan melalui hegemoni dan ekspansi di wilayah yang memiliki sumber daya strategis. Ia juga menyinggung pengelolaan minyak di kawasan Amerika Latin sebagai gambaran nyata kontestasi kepentingan global.
Dalam konteks tersebut, Presiden menegaskan peran sentral perguruan tinggi. Kampus harus menjadi pusat produksi pengetahuan dan rujukan dalam perumusan kebijakan strategis yang berpihak pada kepentingan nasional. Akademisi diminta tidak terjebak pada rutinitas mengajar dan meneliti tanpa membaca arah perubahan dunia.