KILAS BANTEN – Forum Kerukunan Umat Beragama Kota Serang menggelar rapat koordinasi besar menjelang dua hari raya keagamaan yang waktunya berdekatan, yakni Idul Fitri 1447 Hijriah dan Nyepi Tahun Baru Saka 1948. Pertemuan berlangsung di Kebun Kebangsaan Waladun Sholeh, wilayah Walantaka, Selasa, 17 Maret 2026.
Rapat ini dihadiri pemerintah daerah, aparat keamanan, tokoh lintas agama, serta unsur masyarakat. Mereka membahas langkah konkret untuk menjaga stabilitas dan kenyamanan warga di Kota Serang selama momentum hari raya.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua FKUB Kota Serang, KH Matin Syarkowi menegaskan pentingnya toleransi sebagai fondasi kehidupan berbangsa.
Ia menyebut Pancasila berperan sebagai pemersatu, bukan pengatur praktik ibadah.
“Setiap agama sudah memiliki kitab suci dan aturan sendiri. Islam memiliki Al-Qur’an, hadis, dan fikih. Pancasila menjadi dasar kehidupan bermasyarakat, bukan sumber hukum agama,” kata Matin.
Menurut dia, negara tidak mengatur detail ibadah warga. Perbedaan agama, suku, bahasa, dan budaya merupakan realitas yang harus dirawat sebagai kekuatan nasional dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Matin juga mengajak masyarakat menjadikan keberagaman sebagai modal pembangunan. Ia menekankan pembangunan tidak hanya berfokus pada fisik, tetapi juga mental dan spiritual.
“Pembangunan harus seimbang. Infrastruktur penting, tetapi iman dan nilai moral masyarakat juga harus kuat sesuai keyakinannya,” ujarnya.
Sementara itu, Asisten Daerah I Pemerintah Kota Serang Subagyo menyoroti perbedaan karakter dua hari raya tersebut. Idul Fitri identik dengan suasana meriah, silaturahmi, dan aktivitas sosial yang tinggi. Sebaliknya, Nyepi dijalankan dalam keheningan total.
Penulis : Dayat
Editor : Redaksi Kilas Banten
Sumber Berita: KILASBANTEN.COM
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya





















