Komunitas Federal Tangerang atau Fedtang membuktikan sepeda lawas bukan sekadar hobi. Lewat solidaritas, kegiatan sosial, hingga dukungan UMKM, komunitas ini berkembang menjadi wadah persaudaraan yang kuat di Tangerang.
Menurut Keris, daya tarik sepeda Federal terletak pada sejarah dan keunikannya. Apalagi, produksi sepeda tersebut telah berhenti sejak 1996 sehingga kini menjadi barang langka yang banyak diburu kolektor.
“Federal punya banyak varian dan sekarang sudah langka. Itu yang membuat banyak teman-teman akhirnya tertarik merawat dan mengoleksinya,” katanya.
Popularitas sepeda Federal juga terus meningkat seiring tren sepeda vintage yang kembali diminati masyarakat dalam beberapa tahun terakhir. Banyak kolektor rela berburu komponen asli demi mempertahankan nilai klasik sepeda tersebut.
Meski identik dengan sepeda lawas, Fedtang tidak hanya fokus pada aktivitas gowes. Komunitas ini juga aktif menjaga solidaritas antaranggota melalui berbagai kegiatan sosial dan kebersamaan.
Fedtang memiliki slogan “Satu Sepeda Sejuta Sahabat”. Slogan itu menjadi simbol kuatnya rasa kekeluargaan yang terus dijaga di dalam komunitas.
“Di mana pun kita bersepeda, kita tidak merasa sendiri. Karena selalu ada saudara sesama Federal,” ujar Keris.
Semangat itu terlihat dalam kegiatan rutin mereka saat Car Free Day maupun program sosial bertajuk Jumat Berkah Fedtang atau JBF. Melalui kegiatan tersebut, anggota Fedtang secara bergilir turun langsung membantu masyarakat di berbagai wilayah.
Tidak hanya bergerak di bidang sosial, Fedtang juga mulai mendorong pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM milik anggota komunitas.
Ketua Harian Fedtang, Gupuh, mengatakan komunitas harus memberi manfaat nyata bagi anggotanya. Karena itu, Fedtang mulai membuka ruang kolaborasi untuk mendukung usaha dan kreativitas para anggota.