Kampung Pule Binuang Terendam dan Terisolasi, DPRD Kabupaten Serang Desak Bantuan Merata dan Solusi Banjir Permanen

Kilas Banten
29 Jan 2026 14:13
Serang 0
3 menit membaca

KILAS BANTEN – Banjir yang melanda Kecamatan Binuang, Kabupaten Serang, memicu dampak serius bagi warga Kampung Pule, Desa Gembor. Kampung tersebut terisolasi akibat genangan air yang menutup akses distribusi bantuan. Kondisi ini mendorong Wakil Ketua Komisi 3 DPRD Kabupaten Serang dari Fraksi Partai Demokrat, Eki Baihaki, turun langsung ke lapangan dan menegaskan masih kurangnya bantuan sembako serta layanan kesehatan bagi warga terdampak.

 

Eki Baihaki menyampaikan Kampung Pule menjadi salah satu wilayah yang paling merasakan dampak banjir. Akses yang terbatas membuat bantuan sulit masuk dan tidak merata. Menurutnya, kondisi ini membutuhkan perhatian serius dari pemerintah daerah.

 

“Kampung Pule masih sangat kurang bantuan sembako karena menjadi salah satu kampung yang terisolasi oleh banjir,” ujar Eki dalam keterangannya, Kamis, 29 Januari 2026.

 

Selain kebutuhan pangan, Eki menyoroti persoalan kesehatan warga. Banyak masyarakat mengeluhkan gangguan kulit seperti gatal-gatal akibat terlalu lama terendam air banjir. Ia menilai kondisi tersebut tidak bisa dibiarkan karena berpotensi menimbulkan masalah kesehatan yang lebih serius.

 

Eki mengaku telah berkoordinasi dengan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Serang agar penanganan medis segera dilakukan.

 

Ia menekankan bahwa dampak banjir tidak hanya menyangkut kerusakan fisik dan ekonomi, tetapi juga keselamatan dan kesehatan masyarakat.

 

“Saya sudah berkomunikasi dengan kepala Dinas Kesehatan dan akan ditindaklanjuti. Ini penting karena dampak banjir tidak hanya soal kerugian materi, tetapi juga kesehatan masyarakat,” katanya.

 

Dalam kunjungan tersebut, Eki juga menyerap aspirasi warga setempat. Mayoritas masyarakat Kecamatan Binuang bekerja sebagai petani. Banjir yang terjadi mengancam hasil pertanian mereka. Warga memperkirakan sekitar 50 persen lahan sawah berpotensi mengalami gagal panen jika kondisi tidak segera membaik.

 

Atas situasi itu, masyarakat berharap adanya kompensasi atau subsidi dari pemerintah daerah. Bantuan tersebut dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan ekonomi petani yang terdampak langsung oleh bencana banjir. Eki menyebut aspirasi ini sebagai bentuk jeritan warga yang kehilangan sumber penghasilan utama.

 

“Masyarakat berharap ada perhatian khusus dari pemerintah, terutama bagi petani yang terancam gagal panen,” ujar Eki.

 

Selain kompensasi, warga juga menuntut normalisasi kali irigasi. Menurut mereka, pendangkalan dan aliran irigasi yang tidak optimal menjadi salah satu penyebab utama banjir yang kerap berulang di wilayah tersebut.

 

Normalisasi dianggap sebagai langkah mendesak untuk mengurangi risiko banjir, terutama saat curah hujan tinggi.

 

Dorongan Jangka Panjang

Eki Baihaki menegaskan penanganan banjir di Kabupaten Serang tidak dapat dilakukan secara parsial. Ia mendorong Pemerintah Kabupaten Serang untuk berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Banten serta kementerian terkait guna merumuskan solusi jangka panjang yang berkelanjutan.

 

“Penanganan banjir harus direncanakan secara jangka panjang. Pemkab Serang perlu berkolaborasi dengan provinsi dan kementerian agar persoalan banjir bisa dibenahi dari hulu hingga hilir,” tuturnya.

 

Langkah Jangka Pendek

Untuk langkah jangka pendek, Eki berharap Pemkab Serang dapat mengajak pihak swasta dan perusahaan yang beroperasi di wilayah tersebut untuk berkolaborasi dalam penyaluran bantuan. Ia menilai pemerintah daerah memiliki data wilayah terdampak banjir yang cukup akurat.

 

Namun di lapangan, bantuan dari perusahaan masih berjalan sendiri-sendiri. Akibatnya, distribusi bantuan tidak merata. Ada wilayah yang menerima bantuan cukup banyak, sementara lokasi lain justru kekurangan.

 

“Jika koordinasi dilakukan dengan baik, bantuan bisa lebih merata dan tepat sasaran,” katanya.

 

Eki berharap perhatian pemerintah tidak berhenti pada bantuan darurat. Menurutnya, komitmen dalam menghadirkan solusi jangka pendek dan jangka panjang akan menentukan ketahanan masyarakat menghadapi bencana banjir di masa mendatang.