Tugu Peluru Emas Cijentul di Kelurahan Cilowong, Kota Serang, berdiri kokoh di tepi jalan sebagai penanda sejarah perlawanan rakyat Banten melawan pasukan Belanda.Pertempuran Cijentul merupakan bagian dari rangkaian perlawanan rakyat Banten terhadap pasukan kolonial yang berusaha merebut kembali wilayah Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan. Dalam peristiwa tersebut, TNI AD bersama rakyat setempat melakukan perlawanan sengit untuk menghambat pergerakan pasukan Belanda yang masuk ke wilayah Serang.
Pada masa itu, pasukan Belanda diketahui menggunakan tiga jalur utama untuk memasuki Serang. Jalur pertama melalui kawasan Pasar Cilame. Jalur kedua berasal dari arah Anyer. Jalur ketiga datang dari wilayah Pandeglang. Strategi ini membuat posisi pertahanan rakyat semakin terdesak.
Di tengah situasi tersebut, perlawanan rakyat Cijentul dipimpin oleh tokoh lokal bernama Haji Zakaria. Ia dikenal sebagai ulama, pejuang, sekaligus lurah yang menjabat pada periode 1945 hingga 1952. Di bawah kepemimpinannya, rakyat Cijentul bersatu dan bahu-membahu bersama TNI AD untuk mempertahankan wilayah mereka.
Dalam Pertempuran Cijentul, pasukan TNI AD dibagi ke dalam beberapa kelompok strategis. Kelompok Macan Loreng ditempatkan di wilayah Cipadu. Kelompok Watu Gilang disiagakan di daerah Sayar. Sementara itu, kelompok Macan Klewang ditempatkan di wilayah Pabuaran. Pembagian pasukan ini bertujuan memperkuat pertahanan dan mempersempit ruang gerak pasukan Belanda.
Kawasan Cijentul tidak hanya dikenal sebagai lokasi pertempuran. Wilayah ini juga merupakan kawasan desa tua yang masih bertahan hingga kini. Beberapa desa yang berada di sekitar Cijentul antara lain Desa Simin, Desa Jangan, dan Desa Cibetung. Keberadaan desa-desa tersebut menambah nilai historis kawasan ini sebagai bagian penting perjalanan sejarah Serang dan Banten.