M. Ishom el Saha, Guru Besar dan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten
Ketika mereka hadir, Adud al-Daula bertanya,
“Apakah tahun ini ada di antara kalian yang mengobati seseorang dengan akar pohon jarak?”
Seorang tabib menjawab, “Ya, aku pernah mengobati salah satu kerabat dekat istana dengan akar jarak.”
“Siapa yang membawakan akar itu?” tanya Adud al-Daula.
“Seorang penjaga pintu istana.”
“Panggil orang itu.”
Tak lama kemudian penjaga pintu datang menghadap. Adud al-Daula menatapnya tajam.
“Dari mana engkau mendapatkan akar jarak itu?”
Penjaga itu menyebutkan sebuah tempat di padang pasir.
Adud al-Daula segera berkata, “Bawa pedagang ini bersamamu dan tunjukkan tempatnya.”
Mereka pun pergi bersama hingga tiba di sebuah pohon jarak yang berdiri sendiri di tengah padang pasir.
Saat melihatnya, sang pedagang berteriak,
“Demi Allah! Di sinilah aku menguburkan uangku!”
Seketika wajah penjaga pintu berubah pucat.
Mereka kembali ke istana dan melaporkan semuanya kepada Adud al-Dawla.
Sang penguasa berkata dengan suara tegas,
“Kembalikan uangnya.”
Penjaga itu terdiam dan mencoba mengelak. Namun setelah Adud al-Daula mengancamnya dengan hukuman berat, ia pun menyerahkan kembali seribu dinar tersebut.
Pedagang itu menangis—kali ini bukan karena kehilangan, melainkan karena rasa syukur.
Ia menyadari bahwa kecerdasan seorang pemimpin yang adil dapat menjadi sebab terselamatkannya hak orang lain, dan bahwa Allah mampu mengembalikan sesuatu yang hilang melalui jalan yang tak pernah disangka-sangka.