M. Ishom el Saha, Guru Besar dan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten
Maka berangkatlah ia bersama rombongan haji. Ia melintasi padang-padang tandus, menempuh panas yang menyengat, hingga akhirnya tiba di Makkah. Di sana ia thawaf mengelilingi Ka’bah, sa’i antara Shafa dan Marwah, dan berdoa dengan penuh kekhusyukan. Hatinya tenang, merasa telah menyerahkan segala urusannya kepada Allah.
Beberapa bulan kemudian, ia kembali dari perjalanan sucinya.
Sesampainya di kampung halaman, hal pertama yang ia lakukan adalah menuju pohon jarak itu. Dengan penuh harap ia menggali tanah tepat di tempat ia menguburkan hartanya.
Namun lubang itu kosong.
Ia menggali lebih dalam. Tidak ada apa-apa.
Ia berpindah sedikit ke kanan, lalu ke kiri. Tetap kosong.
Wajahnya pucat. Napasnya memburu.
“Tidak… tidak mungkin…”
Ia mulai menangis keras sambil memukuli wajahnya sendiri.
“Bumi telah mencuri uangku! Bumi telah memakan hartaku!”
Orang-orang yang melihat keadaannya merasa iba. Kisah itu pun tersebar hingga akhirnya seseorang berkata kepadanya,
“Pergilah kepada Adud al-Daula. Ia dikenal cerdas dan bijaksana.”
Pedagang itu menjawab dengan putus asa, “Apakah ia mengetahui perkara gaib?”
“Tidak,” jawab orang itu, “tetapi tidak ada salahnya engkau mencobanya.”
Maka pergilah sang pedagang menghadap Adud al Daula dan menceritakan seluruh kisahnya: tentang pohon jarak, seribu dinar, dan hilangnya harta itu sepulang haji.
Sang penguasa mendengarkan dengan tenang, lalu memerintahkan agar seluruh tabib istana dikumpulkan.