KILAS BANTEN – Kalau mendengar kata Hari Santri, sebagian besar orang langsung teringat tanggal 22 Oktober. Tanggal ini menjadi momen nasional untuk mengenang kontribusi santri dalam perjalanan bangsa Indonesia. Namun, di balik peringatan tersebut, ternyata ada cerita dan sejarah dari Banten yang belum banyak diketahui publik.
Buat Gen Z dan milenial, sosok santri sekarang sudah jauh berbeda dari stereotip lama. Santri bukan hanya identik dengan sarung, peci, kitab kuning, atau kehidupan di pondok pesantren. Hari ini, banyak santri yang aktif membuat konten digital, menjadi entrepreneur, desainer grafis, fotografer, penulis, hingga pelaku industri kreatif. Outfit mereka pun semakin beragam. Gamis, koko, sarung, dan hijab kini dipadukan dengan gaya modest fashion yang sederhana, nyaman, tetapi tetap terlihat modern.
Di balik perubahan gaya tersebut, ada nilai yang tetap dijaga, yaitu semangat belajar, akhlak, dan cinta kepada bangsa.
Kalau berbicara soal sejarah, Banten memang memiliki posisi penting dalam perkembangan Islam di Nusantara. Pada masa Kesultanan Banten sejak abad ke-16, wilayah ini berkembang menjadi pusat perdagangan internasional sekaligus pusat penyebaran ilmu agama. Pedagang dari Timur Tengah, India, Tiongkok, hingga Eropa pernah singgah di pelabuhan Banten yang saat itu menjadi salah satu pelabuhan tersibuk di Asia.
Dari daerah ini lahir banyak ulama besar. Salah satunya adalah Syekh Nawawi al-Bantani, ulama asal Tanara yang karya-karyanya hingga kini masih menjadi rujukan di berbagai pesantren, termasuk di Timur Tengah. Selain itu ada Brigjen KH Syam’un, tokoh asal Banten yang dikenal sebagai ulama, pendidik, sekaligus pejuang kemerdekaan Indonesia.
Fakta sejarah tersebut menunjukkan bahwa tradisi pesantren di Banten telah tumbuh selama ratusan tahun dan menjadi bagian penting dari perkembangan pendidikan Islam di Indonesia.
Di tengah kuatnya tradisi tersebut, muncul pula sejumlah gagasan yang berasal dari kalangan pesantren Banten. Sejak tahun 2011, para alim ulama yang tergabung dalam Forum Bintang Sembilan bersama Majelis Pesantren Salafiyah Banten mulai menyuarakan pentingnya pengakuan terhadap pesantren salafiyah atau yang dikenal masyarakat sebagai pesantren kobong. Aspirasi itu bertujuan agar kompetensi keilmuan para santri mendapatkan pengakuan yang lebih luas dalam sistem pendidikan nasional.
Perjalanan tersebut berlanjut pada 5 Juli 2014. Saat itu, KH Matin Syarkowi menggagas Piagam Perjuangan Al-Fathaniyah di Tengkele, Kota Serang, Banten. Berdasarkan keterangan para penggagasnya, piagam tersebut menjadi naskah komitmen yang turut ditandatangani calon presiden saat itu, Joko Widodo, sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan dunia pesantren.
Bagi pihak yang terlibat dalam penyusunannya, Piagam Al-Fathaniyah menjadi simbol penguatan nilai keilmuan, nasionalisme, pengabdian kepada masyarakat, dan kecintaan terhadap Indonesia melalui pendidikan pesantren.
Piagam itu juga memuat gagasan tentang pentingnya ilmu pengetahuan sebagai fondasi moral, penguatan kemandirian masyarakat, serta semangat kebangsaan yang lahir dari tradisi pesantren. Dalam pandangan tersebut, santri diposisikan sebagai generasi yang mampu berkontribusi di berbagai bidang, tanpa meninggalkan identitas keislaman dan kebangsaan.
Setahun setelahnya, pemerintah menetapkan Hari Santri Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015. Penetapan tersebut secara resmi merujuk pada Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang dipelopori KH Hasyim Asy’ari sebagai salah satu tonggak sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Karena itu, penting dipahami bahwa kedua peristiwa tersebut memiliki konteks yang berbeda. Resolusi Jihad merupakan dasar historis penetapan Hari Santri oleh negara, sedangkan Piagam Perjuangan Al Fathaniyah merupakan inisiatif yang berkembang di lingkungan pesantren Banten sebelum Hari Santri ditetapkan. Keduanya berada dalam ruang sejarah yang berbeda, tetapi sama-sama menjadi bagian dari dinamika perjalanan dunia pesantren di Indonesia.
Saat ini, makna menjadi santri juga semakin luas. Santri tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga aktif memanfaatkan teknologi, membangun usaha, mengembangkan komunitas, hingga menyebarkan konten edukatif melalui media sosial. Mereka menunjukkan bahwa tradisi dan inovasi bisa berjalan berdampingan.
Banten pun tetap dikenal sebagai salah satu daerah dengan tradisi pesantren yang kuat. Dari masa Kesultanan Banten hingga sekarang, ribuan santri terus belajar di berbagai pondok pesantren yang tersebar di Serang, Pandeglang, Lebak, Cilegon, Tangerang, dan sekitarnya. Tradisi keilmuan itu menjadi warisan budaya yang terus hidup di tengah masyarakat.
Pada akhirnya, Hari Santri bukan hanya menjadi pengingat terhadap sejarah nasional, tetapi juga menjadi momentum untuk mengenang kontribusi para ulama, pesantren, dan masyarakat Banten dalam membangun pendidikan, kebudayaan, serta semangat kebangsaan. Sejarah memang tersusun dari banyak cerita. Ada yang menjadi bagian dari kebijakan negara, ada pula yang tumbuh dari aspirasi masyarakat. Selama dipahami sesuai konteks sejarahnya, seluruh kisah tersebut menjadi mozaik yang memperkaya perjalanan panjang dunia pesantren di Indonesia.
*) Opini ini ditulis oleh Taufik Hidayat, senior advisor GUSDURian Serang Raya, Ketua IKA PMII UIN SMH Banten dan Forum Alumni Santri Al-Fathaniyah (FALSAFAH).
**) Segala bentuk tanggungjawab atas tulisan tersebut adalah mutlak dari penulis bukan dari Redaksi Kilas Banten.






