Kondisi ratusan rumah warga di Kampung Kajaroan, Cinangka, Kabupaten Serang, yang masih terendam banjir hingga ketinggian dua meter.“Di RT 1 saja ada sekitar 580 jiwa yang terdampak. Itu belum termasuk RT 2 dan RT 3,” katanya.
Pemerintah daerah sebenarnya telah menyiapkan posko pengungsian bagi warga terdampak. Namun, posko tersebut berada di Kampung Pabuaran yang berjarak sekitar satu kilometer dari Kampung Kajaroan. Jarak yang cukup jauh serta kondisi jalan yang rusak parah membuat warga enggan mengungsi ke lokasi tersebut.
“Posko memang ada, tapi jaraknya sekitar satu kilometer di kampung tetangga. Jalannya rusak dan sulit dilalui. Tidak ada warga yang mau ke sana,” tutur Ismail.
Akibatnya, sebagian besar warga memilih bertahan di sekitar kampung atau mengungsi secara mandiri ke dataran yang lebih tinggi. Mereka tidur seadanya dengan beralaskan tikar, tanpa fasilitas memadai.
“Warga lebih memilih bertahan di tanah yang agak tinggi meski kondisinya serba terbatas,” ujarnya.
Kondisi ini membuat warga mendesak pemerintah segera memperbaiki infrastruktur dasar. Ismail menyebut akses jalan sepanjang sekitar 600 meter yang rusak harus segera diperbaiki agar memudahkan evakuasi dan distribusi bantuan. Selain itu, penerangan jalan juga menjadi kebutuhan mendesak karena wilayah tersebut minim lampu jalan.
Selain persoalan posko dan akses, warga juga mengeluhkan minimnya bantuan logistik. Samsul, warga lainnya, mengatakan bantuan yang datang belum mencukupi kebutuhan para pengungsi, terutama kelompok rentan seperti balita dan lansia.
“Kami sangat membutuhkan bantuan untuk balita dan lansia. Susu, popok, dan kebutuhan bayi sangat dibutuhkan,” kata Samsul.