Advertisement
Pendidikan

Sejarah Lengkap Tahlilan: Rekam Jejak Panjang Akulturasi Islam dan Budaya Nusantara yang Terus Bertahan

Warga Kota Serang Banten mengikuti tahlilan di Pondok Pesantren Al-Fathaniyah Tengkele, tradisi doa bersama yang mencerminkan akulturasi Islam dan budaya lokal Nusantara
Warga Kota Serang Banten mengikuti tahlilan di Pondok Pesantren Al-Fathaniyah Tengkele, tradisi doa bersama yang mencerminkan akulturasi Islam dan budaya lokal Nusantara

KILAS BANTEN – Tahlilan telah menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Tradisi ini kerap digelar saat seseorang wafat, dengan doa bersama yang dilakukan pada hari pertama hingga ketujuh, lalu berlanjut pada hari ke-40, ke-100, dan ke-1000. Meski telah mengakar kuat, tahlilan kerap memicu perdebatan di kalangan umat Islam.

Faktanya, tahlilan bukan kewajiban agama. Tradisi ini tetap hidup dan diterima luas karena lahir dari proses panjang pertemuan Islam dengan budaya lokal Nusantara.

Berdasarkan beberapa hujjah atau dalil Tahlilan, diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan lainnya;

عَنْ سَيِّدِنَا مَعْقَلْ بِنْ يَسَارْ رَضِيَ الله عَنْهُ اَنَّ رَسُولَ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم قَالَ : يس قَلْبُ اْلقُرْانْ لاَ يَقرَؤُهَا رَجُلٌ يُرِيْدُ اللهَ وَالدَّارَ اْلاَخِرَة اِلاَّ غَفَرَ اللهُ لَهُ اِقْرَؤُهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ )رَوَاهُ اَبُوْ دَاوُدْ, اِبْنُ مَاجَهْ, اَلنِّسَائِى, اَحْمَدْ, اَلْحَكِيْم, اَلْبَغَوِىْ, اِبْنُ اَبِىْ شَيْبَةْ, اَلطَّبْرَانِىْ, اَلْبَيْهَقِىْ, وَابْنُ حِبَانْ.

Dari sahabat Ma’qal bin Yasar r.a. bahwa Rasulallah s.a.w. bersabda : surat Yasin adalah pokok dari al-Qur’an, tidak dibaca oleh seseorang yang mengharap ridha Allah kecuali diampuni dosadosanya. Bacakanlah surat Yasin kepada orang-orang yang meninggal dunia di antara kalian. (H.R. Abu Dawud, dll)

Nyala Karya Jadi Ruang Ekspresi Budaya, Pemkot Serang Siapkan Pertunjukan Rutin di Royal Baroe

Adapun beberapa ulama juga berpendapat seperti Imam Syafi’i yang mengatakan bahwa:

وَيُسْتَحَبُّ اَنْ يُقرَاءَ عِندَهُ شيْئٌ مِنَ اْلقرْأن ,وَاِنْ خَتمُوْا اْلقرْأن عِنْدَهُ كَانَ حَسَنًا

Bahwa, disunahkanmembacakan ayat-ayat al-Qur’an kepada mayit, dan jika sampai khatam al-Qur’an maka akan lebih baik.

Bahkan Imam Nawawi dalam kitab Majmu’-nya menerangkan bahwa tidak hanya tahlil dan doa, tetapi juga disunahkan bagi orang yang ziarah kubur untuk membaca ayat-ayat Al-Qur’an lalu setelahnya diiringi berdoa untuk mayit.

Begitu juga Imam al-Qurthubi memberikan penjelasan bahwa, dalil yang dijadikan acuan oleh ulama’ kita tentang sampainya pahala kepada mayit adalah bahwa, Rasulallah saw pernah membelah pelepah kurma untuk ditancapkan di atas kubur dua sahabatnya sembari bersabda “Semoga ini dapat meringankan keduanya di alam kubur sebelum pelepah ini menjadi kering”.

Dies Natalis ke-27, Universitas Raharja Perkuat Peran dalam Pengembangan SDM Digital di Kota Tangerang

Imam al-Qurtubi kemudian berpendapat, jika pelepah kurma saja dapat meringankan beban si mayit, lalu bagaimanakah dengan bacaan-bacaan al-Qur’an dari sanak saudara dan teman-temannya Tentu saja bacaan-bacaan al-Qur’an dan lainlainnyaakan lebih bermanfaat bagi si mayit.

Abul Walid Ibnu Rusyd juga mengatakan:

وَاِن قرَأَ الرَّجُلُ وَاَهْدَى ثوَابَ قِرَأتِهِ لِلْمَيِّتِ جَازَ ذالِكَ وَحَصَلَ لِلْمَيِّتِ اَجْرُهُ

“Seseorang yang membaca ayat al-Qur’an dan menghadiahkan pahalanya kepada mayit, maka pahala tersebut bisa sampai kepada mayit tersebut”.

Sejarah mencatat, jauh sebelum Islam datang, masyarakat Jawa telah memiliki tradisi lek-lek-an atau begadang bersama ketika ada anggota keluarga yang meninggal. Kegiatan ini dilakukan hingga tujuh hari. Tujuannya sederhana, yakni menemani dan menguatkan keluarga yang berduka agar tidak larut dalam kesedihan dan rasa sepi.

Perubahan Sosial yang Terus Bergerak: Tantangan Masyarakat Banten Menurut Selo Soemardjan

Dalam perkembangannya, tradisi tersebut tidak hanya berhenti pada tujuh hari. Masyarakat juga mengenal peringatan hari ke-40, ke-100, hingga ke-1000 setelah kematian. Semua dilakukan sebagai bentuk solidaritas sosial dan penghormatan kepada orang yang telah wafat.

Ketika Islam masuk ke Nusantara, khususnya melalui dakwah para wali yang dikenal sebagai Walisongo, pendekatan budaya menjadi strategi utama. Para wali tidak menghapus tradisi yang sudah ada. Mereka memilih mengisinya dengan nilai-nilai Islam. Dari sinilah tahlilan lahir sebagai bentuk kolaborasi antara ajaran agama dan budaya lokal.

Bacaan dalam tahlilan diisi dengan kalimat thayyibah, doa, dan ayat Al-Qur’an. Isinya bertujuan mengingat Allah, mendoakan almarhum, serta menguatkan ikatan sosial warga. Pendekatan ini mencerminkan wajah Islam yang ramah dan membumi, sebagaimana konsep Islam rahmatan lil alamin.

Namun, tidak semua pihak memahami latar sejarah ini. Sebagian kalangan menilai tahlilan sebagai bid’ah karena tidak ditemukan praktik serupa pada masa Rasulullah SAW. Pandangan ini kerap muncul dari sudut pandang normatif yang terlepas dari konteks sejarah penyebaran Islam di Nusantara.

Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, metode dakwah para wali justru menekankan adaptasi dan kearifan lokal. Islam disampaikan tanpa menimbulkan keguncangan sosial. Tradisi lama tidak dimatikan, melainkan diarahkan agar selaras dengan nilai tauhid.

Susunan bacaan tahlilan di Nusantara juga memiliki akar yang kuat dalam tradisi tasawuf. Redaksinya menunjukkan kedekatan dengan Tarekat Qadiriyah dan Rifa’iyah yang berkembang sejak abad ke-6 Hijriah. Kesamaan ini menjadi indikasi bahwa penyusunnya memiliki keterkaitan spiritual dengan tarekat tersebut.

Faktor lain yang memperkuat dugaan ini adalah kuatnya budaya spiritual dan kebatinan masyarakat Nusantara pada masa lalu. Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah diketahui masuk lebih awal ke wilayah Nusantara, bahkan pada era Walisongo. Banyak ulama Nusantara juga menimba ilmu langsung kepada para guru tarekat di Makkah dan Madinah.

Dalam bacaan tahlil, terdapat wasilah atau khadharah yang hampir selalu menyebut nama Sulthonul Auliya’, Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani. Penyebutan ini diyakini memiliki makna spiritual tertentu dan menunjukkan hubungan batin penyusun tahlil dengan Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah.

Tokoh yang kerap disebut sebagai penyusun awal urutan tahlilan adalah Syaikh Siti Jenar. Pendapat ini disampaikan oleh KH Agus Sunyoto. Menurutnya, susunan bacaan tahlilan yang dikenal masyarakat saat ini berakar dari ajaran dan dakwah Syaikh Siti Jenar.

Urutan bacaan tersebut antara lain Surat Al-Ikhlas tiga kali, Al-Falaq satu kali, An-Nas satu kali, Al-Fatihah satu kali, awal Surat Al-Baqarah, Ayat Kursi, istighfar, shalawat, tahlil, tasbih, serta doa dan tawassul. Bacaan Al-Fatihah juga dihadiahkan kepada leluhur dan tokoh masyarakat yang telah wafat.

Dari wilayah Lemah Abang, tradisi ini menyebar ke berbagai daerah di Jawa dan kemudian ke luar Jawa. Penyebarannya berlangsung seiring dengan meluasnya dakwah Islam yang berakar pada pendekatan kultural.

Menurut KH Shahibul Faraji Arrabani, Syaikh Siti Jenar memiliki nama asli Sayyid Hasan Ali Al Husain. Ia kemudian dikenal dengan nama Syaikh Abdul Jalil. Saat berdakwah di wilayah Caruban, Cirebon, ia mendapat julukan Syaikh Siti Jenar, Syaikh Lemah Abang, atau Syaikh Lemah Brit.

Syaikh Siti Jenar lahir sekitar tahun 1404 M di Persia. Sejak kecil, ia belajar Al-Qur’an dan tafsir kepada ayahnya. Pada usia 12 tahun, ia telah menghafal Al-Qur’an. Ketika berusia 17 tahun, ia ikut ayahnya berdakwah dan berdagang ke Malaka.

Di Malaka, ayahnya, Sayyid Shalih, diangkat menjadi Mufti oleh Kesultanan Malaka yang saat itu berada di bawah kekuasaan Sultan Muhammad Iskandar Syah. Kesultanan ini berada dalam pengaruh Kekhalifahan Turki Utsmani. Keluarga Syaikh Siti Jenar kemudian menetap di Malaka.

Situasi berubah pada 1424 M ketika terjadi pergantian kekuasaan. Jabatan mufti pun berganti. Setahun kemudian, Sayyid Shalih beserta keluarga pindah ke Cirebon. Di sana, mereka bertemu dengan Sayyid Kahfi bin Sayyid Ahmad, seorang mursyid tarekat dan penasihat agama Kesultanan Cirebon.

Sayyid Kahfi mengajarkan ilmu ma’rifatullah kepada Syaikh Siti Jenar yang saat itu berusia 20 tahun. Pada masa itu, terdapat empat mursyid utama Thariqah Al-Mu’tabarah Al-Ahadiyyah yang masing-masing memiliki wilayah dakwah berbeda di dunia Islam.

Syaikh Siti Jenar juga mendalami berbagai kitab tasawuf klasik karya Ibnu Arabi, Al-Ghazali, Imam Al-Qushairi, hingga Al-Hallaj. Dalam bidang fikih, ia berguru kepada Sunan Ampel selama delapan tahun dan mempelajari ushuluddin kepada Sunan Gunung Jati.

Setelah wafatnya Sayyid Kahfi, Syaikh Siti Jenar dipercaya melanjutkan peran sebagai mursyid tarekat. Murid-muridnya kelak menjadi tokoh besar dalam perkembangan Islam di Nusantara dan Asia Tenggara.

Dari perjalanan panjang inilah, tahlilan tidak sekadar menjadi ritual doa. Ia adalah simbol akulturasi, strategi dakwah, dan bukti bahwa Islam di Nusantara tumbuh dengan pendekatan damai, kontekstual, dan menghargai budaya lokal.

× Advertisement
× Advertisement