KILAS BANTEN – Tugu Cijentul atau yang lebih dikenal sebagai Tugu Peluru Emas berdiri senyap di Kelurahan Cilowong, Kecamatan Taktakan, Kota Serang, Banten. Monumen ini bukan sekadar penanda wilayah. Tugu tersebut menjadi saksi bisu perjuangan rakyat Cijentul bersama Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) dalam menghadang agresi militer Belanda pascakemerdekaan Indonesia.
Keberadaan Tugu Peluru Emas menyimpan jejak heroik yang hingga kini masih dijaga oleh masyarakat sekitar. Namun, kisah besar di balik monumen ini perlahan nyaris terlupakan, meski perannya sangat penting dalam sejarah perlawanan rakyat Banten.
Berdasarkan penelusuran Redaksi Kilas Banten yang dikutip dari kanal YouTube AYOK3BANTEN pada Rabu, 7 Januari 2026, Sejarah Tugu Cijentul dibangun sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan rakyat Serang dalam mempertahankan wilayahnya dari upaya pendudukan kembali oleh Belanda. Monumen ini diresmikan pada 20 Mei 1976 dan berlokasi di Kampung Cijentul, Kelurahan Cilowong.
Pendirian tugu bertujuan untuk mengenang jasa para pejuang yang terlibat dalam Pertempuran Cijentul. Pertempuran ini terjadi dalam rentang waktu 1945 hingga 1952, saat situasi keamanan di wilayah Serang berada dalam kondisi genting akibat agresi militer Belanda.

Tugu Peluru Emas Cijentul di Kelurahan Cilowong, Kota Serang, berdiri kokoh di tepi jalan sebagai penanda sejarah perlawanan rakyat Banten melawan pasukan Belanda.
Pertempuran Cijentul merupakan bagian dari rangkaian perlawanan rakyat Banten terhadap pasukan kolonial yang berusaha merebut kembali wilayah Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan. Dalam peristiwa tersebut, TNI AD bersama rakyat setempat melakukan perlawanan sengit untuk menghambat pergerakan pasukan Belanda yang masuk ke wilayah Serang.
Pada masa itu, pasukan Belanda diketahui menggunakan tiga jalur utama untuk memasuki Serang. Jalur pertama melalui kawasan Pasar Cilame. Jalur kedua berasal dari arah Anyer. Jalur ketiga datang dari wilayah Pandeglang. Strategi ini membuat posisi pertahanan rakyat semakin terdesak.
Di tengah situasi tersebut, perlawanan rakyat Cijentul dipimpin oleh tokoh lokal bernama Haji Zakaria. Ia dikenal sebagai ulama, pejuang, sekaligus lurah yang menjabat pada periode 1945 hingga 1952. Di bawah kepemimpinannya, rakyat Cijentul bersatu dan bahu-membahu bersama TNI AD untuk mempertahankan wilayah mereka.
Dalam Pertempuran Cijentul, pasukan TNI AD dibagi ke dalam beberapa kelompok strategis. Kelompok Macan Loreng ditempatkan di wilayah Cipadu. Kelompok Watu Gilang disiagakan di daerah Sayar. Sementara itu, kelompok Macan Klewang ditempatkan di wilayah Pabuaran. Pembagian pasukan ini bertujuan memperkuat pertahanan dan mempersempit ruang gerak pasukan Belanda.
Kawasan Cijentul tidak hanya dikenal sebagai lokasi pertempuran. Wilayah ini juga merupakan kawasan desa tua yang masih bertahan hingga kini. Beberapa desa yang berada di sekitar Cijentul antara lain Desa Simin, Desa Jangan, dan Desa Cibetung. Keberadaan desa-desa tersebut menambah nilai historis kawasan ini sebagai bagian penting perjalanan sejarah Serang dan Banten.
Secara fisik, Tugu Cijentul berdiri kokoh di sisi jalan raya. Posisi tugu berada tepat di atas badan jalan, sehingga mudah terlihat oleh para pengguna jalan. Untuk mencapai bagian utama tugu, pengunjung harus menaiki sekitar sembilan anak tangga dari permukaan jalan.
Pada badan tugu terdapat sebuah prasasti berisi pernyataan bersejarah. Tulisan tersebut berbunyi, “Di sinilah rakyat bersama-sama dengan pasukan Macan Loreng dari TNI AD melakukan pertempuran penghadangan gerakan pasukan tentara Kerajaan Belanda pada 28 Desember 1948.” Prasasti ini menjadi penanda kuat atas peristiwa penting yang pernah terjadi di lokasi tersebut.
Bagian paling mencolok dari monumen ini berada di puncaknya. Di bagian atas berdiri replika peluru berwarna emas. Bentuk inilah yang membuat tugu tersebut dikenal sebagai Tugu Peluru Emas. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, peluru tersebut melambangkan senjata hasil rampasan dari tentara penjajah Jepang.
Lingkungan sekitar Tugu Cijentul masih terjaga keasriannya. Monumen ini berada di tikungan jalan menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cilowong. Kawasan tersebut dikelilingi hutan lebat dengan suasana yang sejuk dan alami. Kondisi ini menghadirkan nuansa tenang sekaligus sakral bagi monumen bersejarah tersebut.
Jalan Cilowong sendiri dikenal sebagai jalur alternatif menuju kawasan wisata Anyer. Banyak pengendara yang melintasi kawasan ini tanpa menyadari bahwa di sudut jalan tersebut tersimpan kisah perjuangan rakyat melawan penjajah.
Keberadaan Tugu Peluru Emas Cijentul menjadi pengingat penting bahwa kemerdekaan Indonesia diraih melalui perjuangan panjang dan pengorbanan besar. Monumen ini tidak sekadar bangunan fisik, melainkan simbol keberanian, persatuan, dan semangat juang rakyat Cijentul serta Serang dalam mempertahankan tanah air.

