Warga Kampung Kajaroan, Desa Rancasanggal, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, beraktivitas di tengah genangan banjir yang merendam permukiman hingga dua meter.KILAS BANTEN – Banjir besar yang melanda Kampung Kajaroan, Desa Rancasanggal, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, menyisakan duka mendalam bagi warga. Hingga hari ketiga pascabanjir, masyarakat setempat mengaku belum menerima kunjungan dari Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah. Kondisi ini memunculkan rasa sedih dan kekecewaan di tengah warga yang sedang berjuang menghadapi dampak bencana.
Banjir terjadi sejak Senin malam, 16 Desember 2025. Air meluap dengan cepat dan merendam permukiman warga. Di sejumlah titik, ketinggian air mencapai sekitar dua meter. Warga menyebut peristiwa ini sebagai salah satu banjir terparah yang pernah terjadi di wilayah mereka dalam beberapa tahun terakhir.
Luapan air berasal dari sungai yang melintas di sekitar kampung. Aliran sungai tersumbat tumpukan sampah dan pepohonan di kawasan Bendungan Curug Betung.
Akibatnya, air tidak tertampung dan langsung menggenangi rumah-rumah warga. Sedikitnya 170 rumah di tiga RT di Desa Rancasanggal terdampak langsung oleh banjir tersebut.
Ismail, tokoh masyarakat Kampung Kajaroan, mengatakan warga sangat berharap kehadiran Bupati Serang di lokasi bencana.
Menurutnya, kunjungan kepala daerah memiliki arti penting bagi warga yang sedang tertimpa musibah. Kehadiran pemimpin dianggap mampu memberikan semangat dan rasa diperhatikan.
“Warga jelas merasa sedih. Bagi kami, bupati itu seperti orang tua. Kami berharap beliau datang untuk melihat langsung kondisi anak-anaknya yang sedang terkena musibah,” ujar Ismail, Minggu, 21 Desember 2025.
Ismail menjelaskan, Ratu Rachmatuzakiyah baru dilantik sebagai Bupati Serang pada Mei 2025. Karena itu, warga menaruh harapan besar agar pemimpin baru tersebut bisa turun langsung ke lapangan dan mendengar keluhan masyarakat terdampak banjir.
Selain dukungan moril, warga juga ingin menyampaikan sejumlah kebutuhan mendesak yang hingga kini belum tertangani dengan baik. Salah satunya adalah kondisi akses jalan di Kampung Kajaroan. Jalan sepanjang sekitar 500 hingga 600 meter mengalami kerusakan parah dan sulit dilalui, terutama saat banjir melanda.
“Kalau banjir datang, jalan ini benar-benar tidak bisa dilewati. Aktivitas warga lumpuh. Anak-anak dan orang tua kesulitan,” kata Ismail.
Masalah lain yang disoroti warga adalah minimnya penerangan jalan. Saat banjir terjadi pada malam hari, kondisi kampung menjadi sangat gelap. Hal ini meningkatkan risiko kecelakaan dan menyulitkan warga yang harus beraktivitas atau mengungsi.
Warga juga mendorong pemerintah daerah untuk membangun posko pengungsian permanen. Menurut Ismail, di wilayah Kampung Kajaroan terdapat lahan milik negara yang cukup luas dan bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan tersebut.
“Kami tidak minta bangunan mahal. Cukup tanahnya diurug agar lebih tinggi. Saat banjir datang, BPBD bisa langsung pasang tenda. Warga tidak perlu mengungsi jauh ke kampung lain,” ujarnya.