Kepala DPKD Kabupaten Serang dr. Rahmat Fitriadi saat menjadi pembicara dalam forum diskusi Asia Pasifik di National University of Singapore.Ia menjelaskan, komunitas sosial itu banyak melibatkan warga lanjut usia. Penduduk berusia di atas 70 tahun tetap aktif dalam kegiatan sosial dan menjadi relawan di berbagai sektor. Menurutnya, kebijakan ini mencerminkan cara pandang Singapura yang menempatkan kesehatan sebagai investasi jangka panjang.
“Bagi mereka, kesehatan adalah modal utama. Lansia tidak dipinggirkan, tetapi diberdayakan dan dilibatkan dalam aktivitas sosial,” ujarnya.
Dr. Rahmat juga mengungkapkan alasan dirinya dipercaya mewakili Indonesia dalam forum tersebut. Menurutnya, penyelenggara telah memantau rekam jejaknya sejak 2010. Pengalaman sebagai birokrat, praktisi, serta keterlibatan dalam berbagai program kelembagaan menjadi pertimbangan utama.
“Mereka melihat pengalaman saya di pemerintahan, kerja-kerja sosial, dan keterlibatan di NGO, khususnya di Banten,” katanya.
Dari diskusi tersebut, dr. Rahmat menarik kesimpulan bahwa keberhasilan Singapura bertumpu pada dua pilar utama. Pilar pertama adalah pemerintahan yang kuat dan konsisten. Pilar kedua adalah peradaban masyarakat yang saling mendukung dan berorientasi pada kesejahteraan bersama.
Ia mencontohkan capaian konkret Singapura yang kini tidak lagi memiliki warga dengan penghasilan di bawah dua dolar Amerika Serikat per hari. Menurutnya, capaian tersebut menjadi indikator keberhasilan pembangunan sosial yang menyeluruh.
“Kunci mereka ada pada pembangunan peradaban masyarakat. Itulah ukuran keberhasilan yang sesungguhnya,” tegasnya.
Meski menyadari tidak semua model dapat diterapkan secara langsung, dr. Rahmat berharap nilai-nilai dasarnya bisa diadaptasi. Ia menilai kesejahteraan sosial, lingkungan yang sehat, dan kualitas hidup yang baik harus menjadi tujuan pembangunan di Kabupaten Serang dan Provinsi Banten.