KILAS BANTEN – Banjir yang kembali melanda Kabupaten Serang memicu sorotan dari kalangan legislatif. Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD Kabupaten Serang, Ahmad Muhibbin, menilai banjir yang terus berulang menjadi bukti bahwa kebijakan penanganan selama ini belum menyentuh akar persoalan. Ia mendorong perubahan total pendekatan pemerintah daerah dalam menghadapi risiko banjir.
Ahmad Muhibbin menjelaskan, Kabupaten Serang memiliki kondisi geografis yang tidak sederhana. Wilayah ini mencakup kawasan pesisir, dataran rendah, daerah aliran sungai, rawa, serta lahan pertanian teknis. Kombinasi bentang alam tersebut membuat Kabupaten Serang sangat rentan terhadap banjir, terutama ketika hujan deras terjadi bersamaan dengan pasang air laut.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Ia mengingatkan bahwa Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika telah memprediksi curah hujan di wilayah Banten berada pada kategori tinggi hingga sangat tinggi. Pada puncak musim hujan, potensi curah hujan bulanan bahkan dapat melampaui 300 milimeter. Kondisi ini, menurutnya, seharusnya menjadi dasar perencanaan yang serius, bukan sekadar catatan tahunan.
Data kejadian banjir memperkuat peringatan tersebut. Pada akhir Desember 2025, banjir tercatat melanda sedikitnya sembilan kecamatan di Kabupaten Serang. Belum genap sebulan, banjir kembali muncul di sejumlah titik pada awal Januari 2026. Pola ini menunjukkan bahwa banjir bukan peristiwa kebetulan, melainkan kejadian berulang yang dapat dipetakan dan diprediksi.
“Risiko hidrometeorologi ini tidak bisa lagi direspons secara reaktif. Kabupaten Serang membutuhkan perencanaan jangka panjang yang berbasis peta risiko dan data,” ujar Muhibbin, Selasa, 13 Januari 2026.
Penulis : Dayat
Editor : Redaksi Kilas Banten
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya















